
Selama bertahun-tahun, banyak orang memprediksi bahwa buku fisik atau buku cetak akan ditinggalkan dan digantikan oleh e-book, namun pada kenyataannya, prediksi tersebut tidak sepenuhnya terbukti. Data terbaru justru menunjukkan minat terhadap buku cetak masih kuat, bahkan di tengah pesatnya pertumbuhan format digital. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: jika buku fisik belum tergantikan, kenapa perdebatan antara e-book dan buku fisik masih terus berlanjut?
Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) 2025 yang dirilis Perpustakaan Nasional bersama BPS mencatat skor kegemaran membaca nasional berada di angka 54,80 dari skala 100, masuk ke kategori “sedang”. Perpusnas menegaskan metodologi pengukuran ini baru, sehingga tidak bisa dibandingkan langsung dengan capaian tahun-tahun sebelumnya. Namun, dilihat dari data tersebut, minat baca masyarakat tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan drastis seperti yang kerap diasumsikan orang-orang. Data survei Jakpat pada semester II 2025 bahkan mencatat minat baca generasi Z mencapai 26%, lebih tinggi dibandingkan dengan generasi milenial yang sebesar 20%. Senada dengan itu, survei Book Riot mencatat generasi Z, yang paling akrab dengan teknologi digital, nyatanya hanya membeli e-book sebesar 14% dari keseluruhan buku yang mereka beli.
Data ini memunculkan pertanyaan baru: jika buku fisik ternyata belum tergantikan, mengapa isu e-book versus buku fisik masih terus menjadi perbincangan? Jawabannya terletak pada alasan berbeda yang mendorong masing-masing format tetap mempunyai penggemarnya sendiri.
Kenapa orang beralih ke E-Book?
Format digital menawarkan kepraktisan yang sulit ditandingi oleh buku fisik atau buku cetak, seperti; mudah diakses lewat smartphone, tidak memakan ruang penyimpanan fisik, praktis jika ingin dibawa ke mana pun, dan ingin membaca di mana pun. Bagi penulis, insentif yang ditawarkan oleh sejumlah penerbit untuk penjualan e-book juga kerap lebih tinggi dibandingkan dengan buku fisik, sebagaimana diterapkan oleh Penerbit PT Karya Dosen Internasional.
Pergeseran ke format digital juga mengubah cara orang membaca. Platform digital umumnya dilengkapi fitur rekomendasi otomatis yang mempersonalisasi pengalaman membaca, sementara aktivitas membaca kini terasa lebih “komunal” melalui komunitas seperti Booktok atau Bookstagram. Buku yang dibahas dan direview cenderung lebih cepat dikenal dan diminati.
Kenapa buku fisik masih bertahan?
Di sisi lain, buku fisik tetap memiliki daya tarik yang tidak tergantikan oleh teknologi, seperti; pengalaman membaca yang lebih personal, tidak bergantung pada baterai atau koneksi internet, serta memiliki nilai sentimental sebagai koleksi. Survei GoodStats 2025 terhadap 1.000 responden di berbagai wilayah Indonesia bahkan menunjukkan bahwa 79% pembaca masih lebih menyukai buku cetak. dibanding format digital. Ada pula pergeseran menarik di kalangan anak muda; sebagian mulai meninggalkan konsumsi konten berdurasi pendek yang repetitif dan beralih ke buku untuk mencari kedalaman serta ketenangan mental, sekaligus mengurangi screen time. Data Book Riot yang menunjukkan generasi Z masih dominan membeli buku cetak membuktikan bahwa kedekatan dengan teknologi tidak otomatis menggeser preferensi minat setiap orang. PT Karya Dosen Internasional sendiri memilih untuk tetap mengakomodasi kedua format ini secara bersamaan.
Pada akhirnya, perdebatan e-book vs buku fisik mungkin tidak akan benar-benar berakhir. Bukan karena salah satunya akan “menang”, melainkan karena keduanya mampu hidup berdampingan seperti saudara kembar, dengan alasan, keunggulan, dan pembaca setianya masing-masing. Bagi industri penerbitan, tantangan yang dihadapi bukan lagi memilih salah satunya, melainkan bagaimana bisa mengakomodasi keduanya sekaligus agar dapat saling melengkapi.
Referensi:
https://bookora.id/blog/tren-industri-buku-di-tahun-2026
https://rri.co.id/tanjungpinang/iptek/2419766/e-book-vs-buku-cetak-mana-yang-lebih-bertahan
Cara Platform Digital Mendorong Minat Baca Gen Z